Weekly Journal

Karena sifat malas yang melanda belakangan ini *duh*, saya memutuskan untuk merangkum semua yang saya alami hanya dalam satu post saja.

Liburan telah tiba… Rapot telah dibagi dengan nilai yang tidak terlalu menggembirakan. Hahaha… Perasaan malas melanda dengan dahsyat. Malas menulis, malas berkarya, malas pergi keluar rumah, bahkan untuk bangun tidurpun malas. Dasar siswa yang pemalas…

Banyak hal yang terlintas untuk mengisi liburan ini. Tetapi kenapa pada saatnya liburan datang jiwa dan raga saya menolak semua pemikiran tadi? Saya hanya ingin tidur, bermain, menonton, dan melakukan kegiatan-kegiatan tidak berguna lainnya. Saya senang, tapi disatu sisi saya merasa hampa. Saya belum menemukan apa yang saya cari…

Alhamdulillah akhirnya punya kamera baru. Alat yang bisa membantu saya mengekplorasi & menyalurkan hobi saya. Fotografi…

Baru saja selesai menonton drama Jepang 1 litre of tears. Drama paling mengharukan yang pernah saya tonton. Begitu selesai menonton saya langsung teringat perkataan guru Bahasa Indonesia saya, Bu Yattini.

“Karya yang bagus tidak hanya membuat seseorang menangis atau tertawa, tetapi bisa membuat seseorang berpikir dan melaksanakan apa pesan moral dari karyanya tersebut”.

Karya yang sebenernya beliau maksud adalah drama, karena waktu itu kita sedang membahas mengenai drama. Jujur, 1 litre of tears ini tidak hanya membuat saya menangis tetapi juga membuat saya berpikir betapa berharganya hidup kita. Betapa berharganya kesehatan, hal yang kadang kita sepelekan. Betapa berharganya keluarga, teman. Dan yang paling penting. Betapa berharganya manusia yang bisa menolong orang lain, walaupun untuk berjalan pun dirinya membutuhkan pertolongan orang lain

Kemarin, terjadi sesuatu yang mengejutkan. Sesuatu yang tidak saya sangka-sangka. Makna yang bisa ambil dari kejadian itu adalah…

“Perhatian yang kita berikan pada orang lain, walaupun mungkin tidak dibalas pada saat itu juga. Pasti akan dibalas pada suatu hari nanti”.

Kemarin saya merasakan, saya merasa perhatian yang dahulu saya berikan pada seseorang baru dibalas kemarin. Sesuatu yang tidak saya duga dan tidak saya harapkan…

Ditulis dalam Curhat, My Life. 14 Komentar »

Control

Ya, kendali. Manusia membutuhkan sebuah kendali dalam kehidupannya. Apabila dia sudah berbuat diluar jalur, manusia membutuhkan sebuah sistem peringatan agar bisa kembali ke jalur yang benar. Hari ini saya ditegur oleh kepala sekolah ketika sedang upacara, karena saya mengobrol dengan teman saya. Oke, saya salah. Saya juga salut dengan Kepala Sekolah karena beliau telah mengingatkan saya agar kembali kejalur yang benar. Memang begitu seharusnya. Tapi ada kalanya kita merasa kebal dengan peringatan yang berulang-ulang. Kita tersugesti bahwa peringatan-peringatan itu hanyalah sebuah angin lalu yang cukup kita hiraukan. Itu salah. Sekecil dan sesering apapun kita menerima peringatan, kita harus memikirkannya agar kita kembali kejalan yang benar.

Peringatan-peringatan itu ada dalam diri kita, yaitu hati nurani. Kita pasti merasa bersalah ketika mencopet, walaupun kita sedang terdesak kebutuhan. Itu karena manusia masih memiliki hati nurani. Beruntunglah orang yang masih memiliki hati nurani yang sensitif, karena sekarang ini banyak manusia yang mengesampingkan hati nuraninya demi mencapai kebutuhan hidupnya. Sekali lagi, itu salah. Orang yang tidak mengikuti apa kata hati nuraninya tidak akan pernah merasa bahagia.

Peringatan juga bisa datang dari luar. Yang paling sering adalah orangtua. Teguran dari orangtua yang menyuruh kita belajar, makan, shalat, dll merupakan sebuah peringatan agar kita kembali kejalan yang benar. Tetapi bagaimana jika orangtua kita telah tiada atau kita telah hidup sendiri. Siapa yang akan mengingatkan kita?

Sebuah pemikiran tentang manusia.
Wisnu Raditya Putra, 2006.