Ya, kendali. Manusia membutuhkan sebuah kendali dalam kehidupannya. Apabila dia sudah berbuat diluar jalur, manusia membutuhkan sebuah sistem peringatan agar bisa kembali ke jalur yang benar. Hari ini saya ditegur oleh kepala sekolah ketika sedang upacara, karena saya mengobrol dengan teman saya. Oke, saya salah. Saya juga salut dengan Kepala Sekolah karena beliau telah mengingatkan saya agar kembali kejalur yang benar. Memang begitu seharusnya. Tapi ada kalanya kita merasa kebal dengan peringatan yang berulang-ulang. Kita tersugesti bahwa peringatan-peringatan itu hanyalah sebuah angin lalu yang cukup kita hiraukan. Itu salah. Sekecil dan sesering apapun kita menerima peringatan, kita harus memikirkannya agar kita kembali kejalan yang benar.
Peringatan-peringatan itu ada dalam diri kita, yaitu hati nurani. Kita pasti merasa bersalah ketika mencopet, walaupun kita sedang terdesak kebutuhan. Itu karena manusia masih memiliki hati nurani. Beruntunglah orang yang masih memiliki hati nurani yang sensitif, karena sekarang ini banyak manusia yang mengesampingkan hati nuraninya demi mencapai kebutuhan hidupnya. Sekali lagi, itu salah. Orang yang tidak mengikuti apa kata hati nuraninya tidak akan pernah merasa bahagia.
Peringatan juga bisa datang dari luar. Yang paling sering adalah orangtua. Teguran dari orangtua yang menyuruh kita belajar, makan, shalat, dll merupakan sebuah peringatan agar kita kembali kejalan yang benar. Tetapi bagaimana jika orangtua kita telah tiada atau kita telah hidup sendiri. Siapa yang akan mengingatkan kita?
Sebuah pemikiran tentang manusia.
Wisnu Raditya Putra, 2006.
W|z|z|n|U atau Wisnu atau Nunu. Seorang siswa SMA Favourite di Kota Bandung kelas 2 IPA. Mempunyai minat yang tinggi terhadap bidang komputer, khususnya desain grafis. Kehidupannya sehari-hari dipenuhi oleh komputer, internet, dan remedial.





Desember 5, 2006 pukul 5:29 pm
kalo kelamin nggak bisa dikontrol, ntar poligami ya?
Desember 5, 2006 pukul 6:06 pm
Ada benernya juga
. Tapi bukan kelaminnya, lebih kepada nafsunya.
Desember 6, 2006 pukul 9:58 am
Paradigma masyarakat aja sih…
Tapi kenapa kakak beradik ini bicara hal2 vulgar terus?
Gak baik ajarin anak kecil kata2 kotor..
Desember 6, 2006 pukul 10:32 am
Hmm… Memang keluarga kita menganut sistem “keterbukaan” Tendo Soji. Jadi jangan heran kalau hal-hal seperti ini dianggap biasa. Dan dia belajar bahasa seperti itu dari Film Amerika yang tidak mendidik. Jangan salahkan kalau dalam era globalisasi ini seorang siswa SMP bisa berbicara seperti itu
Desember 6, 2006 pukul 8:37 pm
Mas kok memojokkan aku. Sana gih bergaul sama radical-idealist kayak dia. cih cih.
Desember 7, 2006 pukul 7:43 pm
IYO…mau protes..ehm….[Radical Mode: Always ON]…..CONSERVATIST MACAM TENDO SOJI KAU BILANG RADICAL?????? DUNIA MEMANG MULAI GILA…………….[Radical mode: WARNING!Do not remove the system or all system will gone mad]
ehm…kembali ke topic……tergantung dilihat dari mana sih……
Kalau nuraninya sudah mati…mau gimana lagii…hehe……
Dan kontrol berlebih menimbulkan pemberontakan..baik secara masyarakat maupun personil…..(dan penulis sudah mengalaminya)
Ingat….masih ada YME yang selalu menerima taubat kita bila kita berdosa….Dan Ia selalu mengingatkan kita untuk kembali ke jalan yang benar….